|
Written by Administrator
|
|
Saturday, 24 October 2009 22:05 |
|
Secara bahasa, puasa berarti rnenahan. Secara istilah, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar kedua (shadiq) hingga terbenamnya matahani dengan sengaja (niat). 2. Hukum puasa Segenap umat Islam sepakat bahwa hukum puasa adalah wajib. Barangsiapa berbuka pada bulan Ramadhan tanpa udzur maka dia telah melakukan suatu dosa besar. 3. Keutamaan puasa Allah mengkhususkan puasa untuk Diri-Nya, memberi pahala dan melipatgandakannya tanpa hisab. Doa orang yang puasa tidak ditolak. Orang yang puasa memiliki dua kegembiraan, ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Rabb-Nya. Puasa memberikan syafa’at kepada pelakunya pada hari kiamat. Bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah dari pada wangi minyak kesturi. Puasa adalah tameng (dari kemaksiatan) serta benteng dari Neraka. Barang siapa puasa sehari di jalan Allah maka Allah akan menjauhkan dirinya dari Neraka sejauh 70 tahun. Di Surga terdapat pintu Ar-Rayyan, tempat masuknya orang yang suka berpuasa, dan tidak boleh masuk orang-orang selain mereka. Adapun puasa Ramadhan secara khusus adalah merupakan rukun Islam, bulan saat diturunkannya Al-Qur’an, di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, bila telah masuk Ramadhan segenap pintu Surga dibuka, pintu-pintu Jahannam ditutup serta setan-setan dibelenggu. 4. Manfaat puasa Puasa memiliki manfaat yang banyak sekali. Dan paling penting adalah puasa menjadikan seseorang lebih bertaqwa. Lalu puasa dapat mengusir setan, membunuh syahwat, mendidik keinginan untuk senantiasa menjauhi hawa nafsu dan maksiat, membiasakan disiplin, tepat waktu serta merupakan saat permakluman kesatuan umat Islam. 5. Adab dan sunnah puasa Makan sahur dan mengakhirkannya. Menyegerakan berbuka, dan ketika selesai berbuka membaca:“Telah hilang dahaga, dan telah basah urat nadi serta telah tetap pahalanya,jika Allah menghendaki." Menjauhi rafats, yakni terjerumus ke dalam perbuatan maksiat. Termasuk yang menghilangkan kebaikan dan mendatangkan keburukan yaitu sibuk dengan kartu, sinetron, film, festival, nongkrong atau permainan di jalanan dan semacamnya. Tidak mengkonsumsi makanan mau pun minuman secara berlebihan. Dermawan dengan ilmu, harta, jabatan, akhlak dan anggota badan. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan. Menyiapkan jiwa dan fisik untuk ibadah, segera bertaubat, bersuka cita dengan masuknya bulan Ramadhan, puasa dengan sungguh-sungguh, khusyu’ dalam tarawih, tetap bersungguh-sungguh ibadah di pertengahan Ramadhan hingga akhir, berusaha mendapatkan Lailatul Qadar, memperbanyak sedekah, i’tikaf dan berbagai kebajikan lainnya.
|
|
Last Updated on Saturday, 31 October 2009 08:59 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 30 January 2009 13:51 |
|
Perbedaan Para Ulama Terhadap Asbabun Nuzul Para ulama yan terkenal diantaranya Ali bin Madini, guru Bukhari, al-wahidi dalam kitabnya Asbabun Nuzul, al Ja’bari yang meringkas kitab al-wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya tanpa menambahkan sesuatu. Kemudian syaikhul Islam Ibn Haja as-Suyuti dengan kitabnya Lubabul Manqul fi Asbabun Nuzul. Pedoman Mengetahui Asbabun Nuzul Pedoman dasar para ulama dalam mengetahui asbabun nuzul adalah riwayat shahih yang berasal dari Rasulullah Saw atau dari sahabat. Itu disebabkan pemberitahuan seorang sahabat mengenai hal itu bukan sekedar pendapat (ra’y) tetapi mempunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah). Oleh karena itu yang dapat dijadikan pegangan dalam asbabun nuzul adalah riwayat ucapan sahabat yang bentuknya seperti musnad yang secara pasti menunjukkan asababun nuzul Definisi Sebab Nuzul Setelah diselidiki, sebab turunya suatu ayat itu bekisar pada 2 hal : 1.Bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Qur’an mengenai peristiwa itu 2.Bila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat Qur’an menerangkan hukumnya Tidak semua ayat Qu’an diturunkan karena timbul suatu peristiwa dan kejadian atau karena suatu pertanyaaan. Tetapi ada diantara ayat Qur’an yang diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab, mengenai aqidah iman, kewajiban Islam dan syariat Allah dalam kehidupan pribadi dan sosial. Al-Jabar menyebutkan : “Qur’an diturunkan dalam 2 kategori : yang turun tanpa sebab, dan yang turun karena suatu peristiwa atau pertanyaan. Oleh sebab itu, maka asbabun nuzul didefinisikan sebagai “sesuatu hal yang karenanya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status (hukum)nya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.” Perlunya Mengetahui Asbabun Nuzul a. Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa, karena sayangnya kepada umat. b. Mengkhususkan (membatasi) hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi, bila hukum itu dinyatakan dalam bentuk umum. Ini bagi mereka yang berpendapat bahwa “yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus dan bukannya lafal yang umum.” Contohnya dalam QS Ali Imran (3) ayat 188. c. Apabila lafal yang diturunkan itu lafal yang umum dan terdapat dalil atas pengkhususannya, maka pengetahuan mengenai asbabun nuzul membatasi pengkhususan itu hanya terdapat yang selain bentuk sebab. Contohnya dalam QS An Nur (24) ayat 23-25. d. Mengetahui sebab nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna Qur’an dan menyingkap kesamaan yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab nuzulnya. Contohnya QS Al Baqoroh (2) ayat 158. e. Sebab nuzul dapat menerangkan tentang siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan. Contoh QS Al Ahqof (46) ayat 17.
|
|
Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:01 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 30 January 2009 14:23 |
|
(oleh Tri Hanifa: diambil dari buku Tarbiyah Menjawab Tantangan dan Membentuk Fikroh dan Visi Gerakan Islam) Rijalud Dakwah adalah orang-orang yang siap berjuang dan berkorban di jalan Allah dan menjadi an-natsir tadjir (agent of change) di masyarakat. Seorang Rijalud Dakwah haruslah memiliki keistimewaan yang dapat ditonjolkan, sehingga orang cenderung menjadikan seorang Rijalud Dakwah sebagai figur (tauladan). Diantara keistimewaan yang bisa ditonjolkan meliputi semangat yang tinggi untuk berbuat kebaikan, hapalan hadits maupun Al-Qur’an yang banyak, prestasi akademik yang baik, aktivis dakwah kampus, dll. Oleh karena itu, seorang Rijalud Dakwah harus mampu mengetahui keistimewaannya, sehingga dia bisa mengasah dan mengembangkannya. “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111) Ibarat perniagaan, maka Allah membeli orang-orang mukmin dengan penuh keikhlasan. Sebab perniagaan tidak akan bermakna bahkan akan merugi jika dalam kondisi yang terpaksa. Itu adalah kondisi yang menggambarkan keikhlasan orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah. Adapun karakteristik para Rijalud Dakwah adalah sebagai berikut : Pemahaman Islam yang benar dan lurus. Keikhlasan yang tinggi untuk membela fikroh, bukan membela kepentingan pribadi. Lebih banyak bekerja daripada bicara. Menunjukan totalitas dalam dakwah, adapun marhalah dalam totalitas adalah : Disaat mendengar perintah, hanya mendengar saja. Sami’na wa atho’na dalam kondisi sempit maupun longgar. Tidak menghiraukan pribadi dan keluarga, hidupnya totalitas untuk dakwah. Selalu siap jihad untuk menegakkan syariah. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimiliki. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita-cita dakwah, sekalipun harus ditempuh dengan perjalanan yang sangat panjang. Taat pada qiyadah dan jamaah. Tsiqoh pada qiyadah dan jamaah. Selalu memelihara rasa ukhuwah yang dilandasi kasih sayang dan saling mencintai. Hal yang harus dipahami pula oleh para Rijalud Dakwah adalah masalah tandzim. Islam sebagai manhaj berdiri atas landasan nizham dan tandzim yang sempurna dan saling melengkapi. Apakah masuk akal dakwah yang menyeru kepada Islam, menyeru untuk membangun kehidupan di atas landasan Islam, membentuk masyarakat yang beriman kepada Islam, mendirikan negara yang berhukum dengan syariat Islam tidak menggunakan tandzim? Sistem ibadah seperti shalat, sahaum, zakat dan haji di setiap bagian rinciannya tegak di atas sejumlah prinsip dan dasar-dasar tandzim yang kokoh. Begitu juga dengan sistem masyarakat, hukum perkawinan, undang-undang yang mengatur keluarga Islam dan hubungan sosial. Semua itu, di setiap aspeknya, tegak diatas dasar tandzim yang kuat. Dengan demikian seluruh sistem yang digariskan di dalam manhaj Islam berdiri kuat di dasar tandzim yang rapih.
|
|
Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:04 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 30 January 2009 14:24 |
|
Ahlan wa sahlan, ya Ramadhan. Selamat datang bulan nan penuh berkah. Segalanya jadi mudah berubah. Puasa jadi biasa. Shalat malam terasa ringan. Tilawah begitu bergairah. Bersedekah tak lagi susah. Pada saat itu, hati begitu mudah hijrah.
Betapa bahagianya orang mukmin. Tiap satu tahun, ada satu bulan yang Allah khususkan. Dan kekhususan itu sangat bermanfaat buat mereka yang ingin selamat. Pada bulan itulah keberkahan melimpah. Ampunan dan kasih sayang Allah pun tercurah. Di antara bentuk keberkahan adalah terjadinya perubahan di masyarakat. Masjid yang biasanya kosong tiba-tiba penuh. Tua, muda, dan anak-anak berbondong-bondong menunaikan tarawih. Tilawah Alquran terdengar hampir di tiap rumah. Mereka yang ingin udara sehat pun bisa bernafas lega. Pasalnya, asap rokok nyaris tak mengepul di hampir semua tempat. Semuanya berubah. Ada satu perubahan yang cukup dahsyat. Pada bulan Ramadhan, hati yang sebelumnya keras terasa melunak. Ia menjadi lembut dan peka. Sinyal-sinyal kebesaran Allah di alam begitu mudah tercerna. Tiba-tiba, sang pengguna hati menemukan cahaya hidayah. Dengan serta merta, ia pun berubah. Di antara mereka adalah seorang artis wanita. Namanya Inneke Koesherawati. Penuturannya di Tabloid Nova bisa diambil pelajaran. "Apa yang saya alami, semua mengalir seperti air. Enggak dibuat-buat," ujar Inneke. Perubahan itu terjadi di bulan Ramadhan. Di suatu Ramadhan, ia mengaku dapat masukan banyak tentang Islam. Entah kenapa, masukan-masukan itu seperti menggiringnya ke sebuah pintu. Dan pintu itulah yang memasukkannya ke ruang lain yang penuh cahaya. Di situlah, ia bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Mana yang lurus dan sesat. Padahal, masukan soal ajaran Islam bukan hal pertama ia terima. Artis yang dulunya jauh dari norma Islam ini merasakan ada yang lain pada Ramadhan. "Sebelumnya, nggak pernah sedikit pun ada keinginan untuk tahu lebih jauh soal agama. Kalau toh mendengar, masuk kuping kanan keluar kuping kiri,” kenangnya. Di bulan Ramadhan itulah ia sadar. 'Ternyata, saya belum melakukan apa-apa dalam ibadah. Salat numpang lewat, nggak khusyuk. Puasa juga begitu. Saya ngejalanin semua itu hanya karena nggak enak sama orang." Dari situlah, Inneke memuhasabah diri. Ia malu sama Allah. “Saya mulai merenungkan, kenapa saya udah dikasih rezeki sebegitu banyak, tapi nggak tahu terima kasih. Saya juga jadi makin bersyukur, Allah ternyata masih sayang sama saya. Buktinya, saya yang jarang salat pun masih aja dikasih rezeki," ujar Inneke yang sejak itu bertekad memperbaiki diri Tentang bertekad memperbaiki diri juga dialami Aisyah. Wanita yang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan katolik ini menemukan kesadarannya. Ia kembali kepada jalan Islam. Dan bersinarnya cahaya kesadaran itu terjadi pada bulan Ramadhan.
Sebenarnya, Aisyah tergolong anak yang kritis. Walaupun sejak kecil ia disekolah yayasan katolik,,daya kritisnya tetap jalan. la heran kenapa tuhan bisa ada tiga. Tapi, semua itu ia pendam hingga ia lulus SMP. Saat di SMU, Aisyah mulai sekolah di sekolah negeri. Tidak seperti sebelumnya di sekolah katolik. Dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, Aisyah sering menyaksikan bagaimana teman-temannya menjalankan syariat Islam. Ada yang shalat, puasa, dan berjilbab. Tanpa sengaja, Aisyah mengamati teman-temannya berbicara dan bertingkah dengan cara Islam. Sedikit banyak, semua itu menggoyahkan keyakinan Aisyah. Namun, Aisyah tetap tidak berubah. Ia masih seperti dulu, berpegang pada ajaran katolik. Aisyah tetap pada pendirian bahwa Islam itu kasar, keras, dan arogan. Hingga suatu hari, hatinya mulai goyah ketika Ramadhan berlangsung. Saat itu, Aisyah terpesona dengan sebuah ceramah di televisi. Waktu itu ada acara pengantar berbuka puasa. Sang penceramah membedah Ramadhan dari sisi kemanusiaan dan kasih sayang. Aisyah tertarik. Ia pun terus menyimak. Tanpa sadar, nilai-nilai Islam mulai merasuk dalam diri Aisyah. Beberapa hari setelah itu, Aisyah bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana. Terus terang, ia mulai tertarik dengan Islam. Ternyata, pemahamannya selama ini tentang Islam adalah salah. justru, Islam sangat menghargai kemanusiaan dan menjunjung tinggi kasih sayang. Ia pun mencoba belajar salat, baca Alquran, dan puasa. Tapi, keraguannya masih belum hilang. Beberapa hari setelah itu, Aisyah menemui pendeta. Ia mencoba mendalami lebih jauh bagaimana katolik menyikapi trinitas. Dari situ, Aisyah makin bingung. Ia heran, bagaimana mungkin ia yang sudah bertahun-tahun beragama katolik justru malah makin bingung soal tiga tuhan. Dari situlah, ia bertekad menjadi muslimah. Walaupun dapat tantangan dari keluarga, Aisyah ingin menjadikan Ramadhan sebagai saat yang tepat melakukan perubahan diri secara total.
|
|
Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:06 |
|
Read more...
|
|
Antara Tarbiyah, Dakwah, dan Jamaah |
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 30 January 2009 14:23 |
|
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal sholih, seraya berkata ‘sesungguhnya aku termasuk kaum muslimin (yang berserah diri kepada Allah)’, tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang diantara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushilat: 33-34) Menjadi sholih/ah adalah keniscayaan bagi setiap muslim. Apalagi yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Jika aktivis dakwah bukanlah seorang ahli kebaikan, sangat mustahil bisa merubah masyarakat menuju kondisi yang lebih baik. Faqidu syai’in la yu’thi ghoirohu ‘jika tidak memiliki apa-apa, niscaya tidak akan bisa memberikan kontribusi apapun pada orang lain. Begitupun jika seorang aktivis dakwah hanya mengajak tanpa qudwah dari dirinya, maka dakwahnya hanya menyentuh sisi kognitif saja (knowledge), padahal sisi afektif (hati/iman) adalah point terpenting dalam dakwah. Ingatlah akan firman Allah: “wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Untuk menuju pribadi yang sholih, perlu dilakukan sebuah rekayasa diri (tarbiyah dzatiyah) yang akan memotivasi ruh kita untuk senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan diri. Saya berpendapat bahwa tarbiyah dzatiyah dan tarbiyah jamaah adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, apalagi mengingat keterbatasan manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan mudah labil. Adanya tarbiyah jamaah (liqo/halaqoh) adalah back-up tarbiyah yang akan memacu komitmen tarbiyah dzatiyah, begitupun sebaliknya, tarbiyah jamaah tidak akan terwujud jika seorang muslim tidak memiliki keinginan untuk mengakselerasi ketaqwaannya (tarbiyah dzatiyah). Sekarang pertanyaannya adalah mengapa para aktivis dakwah harus meningkatkan komitmen tarbiyahnya? Di dalam fiqh dakwah ada beberapa kaidah dakwah yang harus dipahami oleh setiap aktivis dakwah, yakni :
|
|
Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:10 |
|
Read more...
|
|
Hidup dalam satu kalimat utuh |
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 30 January 2009 14:20 |
|
Ikhwahufiddin, sungguh banyak sekali nikmat yang telah kita nikmati semenjak di lahirkan hingga kita bertatap muka disini. Mulai dari hirupan nafas, degup jantung, hingga sehelai rambut yang bersemayam di kulit kita, semuanya sungguh mempesona. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”(Ar Rahman) Jawaban kita sangat jelas akhuna, tidak ada ya Rabb, sungguh Maha Suci Engkau dengan segala yang Engkau ciptakan. Hanya jawaban ini saja, kemudian diikuti oleh lidah, hati dan tangan kita yang kemudian memujiNya dalam tiap degup jantung. Mengapa ana menggunakan degup jantung sebagai ukuran? Sebab dalam setiap detik, jantung kita berdegup dua kali, itu artinya satu detik terlalu lama untuk lupa kepada Allah, walaupun jujur ana juga manusia yang tidak luput dari ke alpaan. Akhi, nikmat yang Allah berikan itu bukan Cuma-Cuma. “Selalu ada sesuatu dibalik sesuatu” atau jangan jangan ada “udang dibalik peyek” itu yang mungkin sering kita sangkakan kepada Allah. Aduh, bukan seperti itu akhi, Allah sangat kaya, Maha Kaya bahkan (Al Ghoniy), lalu Allah juga Maha Perkasa, Maha Kuasa dan serangkaian Maha yang lain. Untuk apa Ia mengharapkan sesuatu kepada makhlukNya. Tidak, Allah tidak membutuhkan kita sama sekali, namun sebaliknya kita teramat tergantung kepadanya, tiap degupnya. “Allah tempat bergantung segala sesuatu”(Al Ikhlas: 2) Karena saking tergantungnya kita kepada Allah, maka satu detik saja kita dibiarkan terpeleset
|
|
Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:18 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 30 January 2009 14:22 |
|
Ramadhan merupakan bulan yang sangat agung, banyak keutamaan yang kita dapatkan darinya. Karena itu orang yang mengetahui tentang keutamaan dan keagungan Ramadhan akan menginginkan kalau setiap bulan itu dijadikan oleh Allah sebagai bulan Ramadhan. Namun harus kita sadari bahwa tidak mungkin setiap bulan Allah jadikan sebagai bulan Ramadhan. Karena itu menjadi kewajiban kita bersama untuk mensyukuri kedatangan Ramadhan tahun ini dan kita bisa menjumpainya. Bersyukurnya adalah dengan mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai aktivitas tarbiyyah (pendidikan) sehingga dapat kita raih peningkatan taqwa kepada Allah Swt. Target peningkatan taqwa ini memang disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS 2:183). Oleh karena itu apabila seseorang tidak meningkat ketaqwaannya kepada Allah Swt melalui ibadah Ramadhan, maka dia tidak mendapatkan apa-apa dari Allah kecuali hanya menahan lapar dan haus saja, padahal Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya seseorang, tapi yang Allah inginkan adalah akhlak yang mulia, Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang (puasa tapi) tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya (HR. Bukhari). Dengan demikian hakikat ibadah Ramadhan adalah melatih diri agar dapat meningkat ketaqwaan kita kepada Allah sehingga ada yang harus kita perbaiki dari ibadah Ramadhan itu. SISI-SISI PERBAIKAN. Sekurang-kurangnya, ada tiga sisi yang harus kita perbaiki dari ibadah Ramadhan kita dari tahun ke tahun. Pertama, memperbaiki keislaman diri kita agar semakin bertaqwa dan selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Perasaan diawasi oleh Allah menjadi begitu penting dalam kehidupan seorang muslim karena dengan demikian dia tidak berani menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan Allah, hal ini karena setiap perbuatan manusia ada pertanggung-jawabannya dihadapan Allah, kebaikan dan keburukan yang dilakukannya untuk dirinya sendiri. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka petunjuk itu untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka” (QS 39:41). “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS 17:36). Puasa melatih kita untuk selalu dalam pengawasan Allah, menghargai waktu, disiplin dan sebagainya, sehingga dari ibadah ini insya Allah akan kita capai perbaikan keislaman diri ke arah yang lebih baik. Kedua, memperbaiki keislaman keluarga, ini bisa kita lakukan dengan lebih menkondisikan suasana pengamalan ajaran Islam dalam keluarga seperti tadarus dan tadabbur (mengkaji) Al-Qur’an, sahur bersama, buka puasa bersama, tarawih bersama yang disertai ceramah dan memperkokoh hubungan dengan sesama anggota keluarga karena suasana kumpul bersama keluarga di rumah pada bulan Ramadhan relatif lebih banyak sehingga tercipta keakraban dan keharmonisan hubungan antar keluarga yang berdampak sangat positif dalam upaya memperbaiki keislaman anggota keluarga.
|
|
Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:17 |
|
Read more...
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 30 January 2009 14:22 |
|
profil hamas atau porfil israel
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Page 2 of 2 |
|
|
|
|
|
We have 6 guests online
Members : 21
Content : 37
Content View Hits : 9079
global track
|