|
(oleh Tri Hanifa: diambil dari buku Tarbiyah Menjawab Tantangan dan Membentuk Fikroh dan Visi Gerakan Islam) Rijalud Dakwah adalah orang-orang yang siap berjuang dan berkorban di jalan Allah dan menjadi an-natsir tadjir (agent of change) di masyarakat. Seorang Rijalud Dakwah haruslah memiliki keistimewaan yang dapat ditonjolkan, sehingga orang cenderung menjadikan seorang Rijalud Dakwah sebagai figur (tauladan). Diantara keistimewaan yang bisa ditonjolkan meliputi semangat yang tinggi untuk berbuat kebaikan, hapalan hadits maupun Al-Qur’an yang banyak, prestasi akademik yang baik, aktivis dakwah kampus, dll. Oleh karena itu, seorang Rijalud Dakwah harus mampu mengetahui keistimewaannya, sehingga dia bisa mengasah dan mengembangkannya. “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111) Ibarat perniagaan, maka Allah membeli orang-orang mukmin dengan penuh keikhlasan. Sebab perniagaan tidak akan bermakna bahkan akan merugi jika dalam kondisi yang terpaksa. Itu adalah kondisi yang menggambarkan keikhlasan orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah. Adapun karakteristik para Rijalud Dakwah adalah sebagai berikut : Pemahaman Islam yang benar dan lurus. Keikhlasan yang tinggi untuk membela fikroh, bukan membela kepentingan pribadi. Lebih banyak bekerja daripada bicara. Menunjukan totalitas dalam dakwah, adapun marhalah dalam totalitas adalah : Disaat mendengar perintah, hanya mendengar saja. Sami’na wa atho’na dalam kondisi sempit maupun longgar. Tidak menghiraukan pribadi dan keluarga, hidupnya totalitas untuk dakwah. Selalu siap jihad untuk menegakkan syariah. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimiliki. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita-cita dakwah, sekalipun harus ditempuh dengan perjalanan yang sangat panjang. Taat pada qiyadah dan jamaah. Tsiqoh pada qiyadah dan jamaah. Selalu memelihara rasa ukhuwah yang dilandasi kasih sayang dan saling mencintai. Hal yang harus dipahami pula oleh para Rijalud Dakwah adalah masalah tandzim. Islam sebagai manhaj berdiri atas landasan nizham dan tandzim yang sempurna dan saling melengkapi. Apakah masuk akal dakwah yang menyeru kepada Islam, menyeru untuk membangun kehidupan di atas landasan Islam, membentuk masyarakat yang beriman kepada Islam, mendirikan negara yang berhukum dengan syariat Islam tidak menggunakan tandzim? Sistem ibadah seperti shalat, sahaum, zakat dan haji di setiap bagian rinciannya tegak di atas sejumlah prinsip dan dasar-dasar tandzim yang kokoh. Begitu juga dengan sistem masyarakat, hukum perkawinan, undang-undang yang mengatur keluarga Islam dan hubungan sosial. Semua itu, di setiap aspeknya, tegak diatas dasar tandzim yang kuat. Dengan demikian seluruh sistem yang digariskan di dalam manhaj Islam berdiri kuat di dasar tandzim yang rapih.
Tandzim adalah petunjuk Al-Qur’an Al-Qur’an menegaskan bahwa banyak ayatnya secara jelas atau dengan isyarat agar memperhatikan tandzim, dan tidak melupakannya. Sehingga, dalam aspek dakwah, umat diisyaratkan agar memiliki qiyadah yang memutuskan hukum dan perkara diantara mereka. Apa yang diputuskannya harus diterima tanpa merasa berat sedikitpun. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulul amri diantara kamu.” ( An-Nisaa: 59) Ketika menjelaskan eratnya hubungan sesama kaum muslimin dan rasa senasib sepenanggungan di antara mereka, terlebih khusus lagi ketika mereka menghadapi musuh, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-oranng yang berperang di jalan Allah dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (As-Shaff: 4). Tandzim adalah asas petunjuk kenabian Rasulullah saw sebagai teladan dan pemimpin umat Islam memberikan perhatian yang besar terhadap tandzim. Hal ini terlihat dari seruannya yang jelas dan gamblang agar kaum muslimin senantiasa menegakkan kepemimpinan dan memilih seorang pemimpin pada setiap kelompok. “Jika kamu tiga orang hendaklah salah satu menjadi pemimpinnya.” (Ath-Thabrani dengan isnad Hasan) Dari sinilah lalu ditentukan tugas-tugas seseorang dan siapa yang mengawasinya dengan mengarahkan dan meluruskannya apabila terdapat kelemahan. “Dengar dan taatlah walaupun yang memerintahkan seorang hamba Habsyi yang kepalanya seperti buah kismis.” (HR Bukhari) Dalam rangka memperinagtkan terjadinya fitnah dan pecahnya barisan muslimin, yang akan membuat mereka lemah dan membangkitkan keberanian musush, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menarik tangannya dari ketaatan, maka dia akan menemui Allah pada hari kiamat tanpa mempunyai alasan. Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada ikatan baiat, maka dia mati jahiliah” (HR Muslim) Tandzim adalah dasar amalan Rasulullah saw. Aktivitas dan amaliyah Rasulullah saw di seluruh tahapan kenabiannya, baik fase Mekah maupun Madinah, baik dalam konteks tarbiyah, penyebaran dakwah perang ataupun yang lainnya, semuanya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip tandzim. Beliau menaruh perhatian yang sangat besar terhadap masalah ini. Contohnya ketika Rasulullah melakukan ba’iat Aqobah I dan II. Sasaran-sasaran Islam yang besar menuntut adanya tandzim Dakwah dan aktivitas Islam dalam kondisi tidak adanya negara Islam yang berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, sasarannya harus berwujud perubahan, yakni merubah realitas. Mengubah relitas bukan hanya sekedar nasihat yang larut dengan keadaan sehingga menjadi bagian darinya. Perubahan yang Islami harus dilakukan terhadap kondisi jahiliah yang ada pada ide-ide, keyakinan, sistem, undang-undang, akhlak, moral, adat istiadat, dsb. Hal ini tidak mungkin terealisir kecuali dengan pengorganisasian dan tandzim yang rapih. Besarnya permusuhan yang dihadapi Islam mewajibkan adanya tandzim Musuh-musuh Islam memiliki puluhan tandzim, gerakan, dan sarana-sarana formal. Semua ini digunakan untuk melakukan konspirasi dan tipu daya terhadap Islam dan umatnya. Mereka mempunyai sarana dan prasarana yang tak terhitung banyaknya. Mereka menguasai berbagai teknologi modern dalam melakukan makarnya terhadap Islam, baik dalam program-program maupun operasionalnya. Mereka unggul dalam semua ini. Mereka telah bergerak untuk membuat persekongkolan jahat secara internasional yang didukung oleh kekuatan tentara dan militer dari berbagai negara. Karena itu, apakah masuk akal kita mempertahankan dan membela Islam tanpa perencanaan, tandzim, pengorganisasian dan manajemen yang canggih? Tanpa hal di atas, mau dibawa kemana dakwah Islam dalam seluruh amaliyahnya? Siapakah yang mendapat keuntungan dan kerugian? Himbauan untuk kita: Hendaklah kita memahami Islam dengan pemahaman yang benar sebelum tampil mendakwahkannya Bertaqwalah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya taqwa, dan ingatlah selalu firman-Nya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37).
|