Antara Tarbiyah, Dakwah, dan Jamaah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 30 January 2009 14:23

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal sholih, seraya berkata ‘sesungguhnya aku termasuk kaum muslimin (yang berserah diri kepada Allah)’, tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang diantara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushilat: 33-34)

Menjadi sholih/ah adalah keniscayaan bagi setiap muslim. Apalagi yang mengaku sebagai aktivis dakwah. Jika aktivis dakwah bukanlah seorang ahli kebaikan, sangat mustahil bisa merubah masyarakat menuju kondisi yang lebih baik. Faqidu syai’in la yu’thi ghoirohu ‘jika tidak memiliki apa-apa, niscaya tidak akan bisa memberikan kontribusi apapun pada orang lain. Begitupun jika seorang aktivis dakwah hanya mengajak tanpa qudwah dari dirinya, maka dakwahnya hanya menyentuh sisi kognitif saja (knowledge), padahal sisi afektif (hati/iman) adalah point terpenting dalam dakwah. Ingatlah akan firman Allah: “wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Untuk menuju pribadi yang sholih, perlu dilakukan sebuah rekayasa diri (tarbiyah dzatiyah) yang akan memotivasi ruh kita untuk senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan diri. Saya berpendapat bahwa tarbiyah dzatiyah dan tarbiyah jamaah adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, apalagi mengingat keterbatasan manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan mudah labil. Adanya tarbiyah jamaah (liqo/halaqoh) adalah back-up tarbiyah yang akan memacu komitmen tarbiyah dzatiyah, begitupun sebaliknya, tarbiyah jamaah tidak akan terwujud jika seorang muslim tidak memiliki keinginan untuk mengakselerasi ketaqwaannya (tarbiyah dzatiyah). Sekarang pertanyaannya adalah mengapa para aktivis dakwah harus meningkatkan komitmen tarbiyahnya? Di dalam fiqh dakwah ada beberapa kaidah dakwah yang harus dipahami oleh setiap aktivis dakwah, yakni :

  1.  
    1. Al-qudwah qobla dakwah (menjadi teladan sebelum berdakwah)

    2. At-ta’lif qobla ta’rif (mengikat hati sebelum memperkenalkan)

    3. At-ta’rif qobla taklif (memperkenalkan sebelum memberikan tugas pengamalan)

    4. At-tadarruj fit-taklif (bertahap dalam memberikan tugas-tugas)

    5. At-taisir lat-ta’sir (memudahkan bukan menyulitkan)

    6. Al-ushul qoblal-furu (yang pokok sebelum yang cabang)

    7. At-targhib qobla-tarhib (memberi harapan sebelummemberi ancaman)

    8. At-tafhim la-talqin (memberikan pemahaman bukan mendikte)

    9. At-tarbiyah lat-ta’riyah (mendidik bukan menelanjangi)

    10. Tilmidzu imam la tilmidzu kitab (muridnya imam bukan muridnya buku)

Untuk memahami kaidah-kaidah tersebut, maka seorang aktivis dakwah harus menuntut ilmu tentangnya, juga mengaflikasikan hal-hal yang sudah dipahami tentangnya, karena manhaj jamaah kita adalah manhaj al-Amal. Kemampuan diri untuk menjadi qudwah, kemampuan mengikat hati, manajemen dakwah, kafaa’ah syar’i, dan lain-lain membutuhkan banyak suplemen khusus, baik diskusi, seminar, nasihat, buku, dsb. Namun ada hal yang ternyata lebih penting, yakni back-up intensif yang dinamis dalam kerangka ukhuwah Islamiyah untuk menggulirkan dakwah dan tarbiyah. Dan itu semua hanya bisa kita dapatkan dari guru (murobbi), bukan dari buku atau seminar atau yang lainnya. Maka seorang aktivis dakwah atau murobbi pada saat yang sama, ia juga harus menjadi seorang mutarobbi aktif tarbiyah dalam jenjangnya masing-masing. Inilah kunci tarbiyah dzatiyah dan jamaah yang sesungguhnya.

Satu hal lagi yang harus kita pahami, selain kewajiban syariat, dakwah juga merupakan human basic need (kebutuhan dasar manusia) secara universal. Artinya, manusia dimanapun ia berada, tidak akan pernah bisa hidup dengan baik tanpa dakwah. Dakwahlah yang akan menuntun manusia pada kebaikan. Sedangkan menjadi ahli kebaikan adalah kebutuhan dasar setiap orang. Maka, jangan pernah terfikir sedikitpun untuk menjauh dari dakwah dengan alasan apapun. Justru, ketika kita merasa kesulitan menjadi baik, maka dakwah inilah yang akan membantu kita untuk termotivasi menjadi individu yang lebih baik. Semakin kita memahami hakekat Islam, semakin besar pula kebutuhan kita terhadap dakwah.

Organisasi adalah tulang punggung dakwah dan karenanya harus kuat memikul beban berat dalam waktu yang panjang. Maka jamaah haruslah berisi orang-orang yang kuat dan tangguh dalam seluruh aspek kepribadiannya.




Comments
Add New Search
wow power leveling  - zfdfsd5     |123.145.187.xxx |2010-05-27 01:47:47
Our website are wow gold the reliable or wow power leveling and wow gold and wow power leveling
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:10
 
Lafadz12.jpg

arsip

translate this site

We have 2 guests online
Members : 21
Content : 37
Content View Hits : 9070

Shout Box

ShoutMix chat widget

global track

free counters
Valid XHTML & CSS | Template Design wex | Copyright © 2009 by CDMS