Manajemen Keluarga Muslim Bahagia Sejahtera PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 17 November 2009 14:22

 

Oleh Ustadz Junni Al Jundi dalam Kajian Ahad Pagi Syuhada 15 November 2009

 

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.”

(Qs AnNisa’: 9)

 

Ayat diatas telah jelas menerangkan bahwa hendaklah kita bekerja keras untuk menghasilkan generasi yang kuat dan sejahtera, dan mengutamakan kejujuran. Kuat dalam arti yang seluas-luasnya, baik secara fisik, intelektual, emosiona, spiritual, dan  finansial. Setelah memenuhi kriteria kuat tersebut maka jelas akan terhapus kekhawatiran terhadap kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.

Secara sepintas memang kata kesejahteraan identik dengan finansial dan yang berhubungan dengan uang. Akan tetapi jika dilihat lebih jauh, dengan tidak menegasikan pentingnya uang, kesejahteraan yang hakiki harus ditopang dengan faktor-faktor lain di atas. Lebih-libih jika kita melihat ayat-ayat tentang jihad, selalu disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Fisik, intelektual, emosional, dan spiritual tercakup dalam “jiwa” sedangkan spiritual diwakili oleh “harta”.

“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Q.S. Ash-Shaf 61: 10-11)

Oleh karena itu hendaknya kita mempersiapkan jiwa dan harta tersebut untuk memenuhi panggilan jihad tersebut. Tidak mungkin kita dapat berjihad dengan harta jika kita tidak memilikinya, begitu juga dengan yang lain.

Islam telah mengatur banyak hal dalam segi finansial salah satunya yaitu perintah zakat. Sebagaimana telah kita fahami perintah zakat diwajibkan bagi seorang muslim yang mampu melaksanakannya. Sehingga secara tidak langsung Islam “memaksa” pemeluknya agar menjadi orang yang mampu sehingga dapat menunaikan perintah zakat. Secara ekonomi, seorang muslim diharapkan untuk menjadi muzakki, bukan sebagai mustahiq si penerima zakat.

Sebagai contoh Rasulullah SAW, beliau adalah orang yang sangat kaya, bisa dibayangkan beliau menikahi Khadijah dengan mahar 1000 ekor unta. Sungguh nilai yang tidak kecil di zaman itu. Umar ibnu Khatab, Utsman Bin ‘Affan adalah pejabat dan konglomerat kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk surga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Seorang sahabat yang berjiwa bisnis, beliau seorang saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justru dia termasuk orang zuhud.

Zuhud tidak sama dengan miskin, melarat dan sebagainya. Dia merupakan rasa cukup dan puas terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah. Zuhud adalah tidak adanya ikatan kepada harta dan materi duniawi. Orang yang memiliki harta dan jabatan tetapi merasa cukup dan puas dengan apa yang diberikan Allah dan menghilangkan ketertarikan hati dengannya adalah zuhud sekalipun ia kaya raya.

Manajemen keuangan islam telah mengatur bagaimana harta dikelola sehingga ia dapat menjadikan wasilah kepada surga, sebaliknya jika tidak dikelola

dengan baik maka akan mengantarkan kita kedalam neraka.

Prioritas penggunaan harta secara islam telah diatur yaitu:

1.       Zakat, infaq dan shadaqah

Sebagai seorang muslim, telah dibahas diatas, diharapkan menjadi seorang muzakki bukan mustahiq. Selanjutnya infaq dan shadaqah dilaksanakan karena dia akan menjadi pupuk bagi berkembangnya rizki kita, dia akan semakin tumbuh, besar dan berkembang.

Dari Abi ‘Abdillah Tsauban bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (H.R. Imam Muslim)

2.       Membayar utang

Utang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi. Jika suatu saat seseorang shalih mati dalam keadaan masih berhutang, maka dia akan tertunda dalam menikmati surga.

3.       Investasi

Sebagai seorang muslim kita diharapkan untuk bersiap-siap menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi, sangat mungkin suatu musibah datang dengan tiba-tiba, sehingga diperlukan adanya persiapan yang cukup untuk dapat melewatinya. Investasi ini juga bisa berwujud sebagai peningkatan kualitas diri, menggunakan sebagian hartanya untuk membeli buku, atau menabung untuk persiapan ibadah haji juga termasuk investasi.

4.       Konsumsi

Yang terakhir baru harta tersebut dapat kita konsumsi dengan tidak berlebihan. Kontrol yang dapat digunakan yaitu menanyakan fungsinya apa. Misalkan ingin mempunyai kapal pesiar. Funsinya apa? Jika tidak mempunyai funsi untuk membuat lebih baik, tidak berguna.

 

Jadi, kita diperintahkan untuk belajar mengatur harta, sehingga bisa lulus dalam ujian mengelola harta itu. Oleh karena itu untuk dapat mengelola harta mestinya harus ada harta yang dikelola itu sendiri. Untuk mendapatkannya yaitu memaksimalkan potensi diri yang ada, tidak hanya berpijak pada satu kaki, tetapi juga bergantung dengan dua tangan.

1.       Maksimalkan karir sebagai seorang employment

Ketika seseorang bisa berkarir dengan bagus maka itu dapat menjadi sebuah penghasilan baginya. Terlebih lagi jika telah berada di bagian menengah ke atas, sehingga tidak perlu bekerja sepanjang hari, dan banyak waktu yang dapat digunakan untuk hal yang lebih penting lainnya. Oleh karena itu berkarir secara profesional dengan cara memaksimalkan potensi diri.

2.       Mengasah kekuatan self employment

Katakanlah seseorang yang bekerja sebagai dosen (employ), ia juga memiliki keahlian di bidang yang lain semisal desain, pijat refleksi, atau mengajar sebagai trainer, dan lain-lain, bisa diasah dan dijadikan sebagai sumber penghasilan kedua. Bahkan banyak orang yang malah penghasilan sebagai self employ lebih besar daripada gaji pokoknya sebagai PNS,

3.       Membuka usaha mandiri

Selain 2 hal diatas dapat juga membuka usaha mandiri di serahkan kepada orang yang dapat dipercaya seperti membuka bengkel, fotocopy, dll. Dengan sistem bagi hasil atau kontrak

4.       Investasi

Setelah memiliki dana yang cukup, dapat juga diinvestasikan kepada saudaranya yang membuka usaha, atau dibelikan barang yang memiliki nilai investasi seperti rumah.

 

Oleh karena itu jangan anggap Islam tidak mendukung untuk menjadi orang kaya, Islam bahkan mengharapkan seluruh pemeluknya menjadi orang kaya. Seperti yang telah dijelaskan di awal, harta maupun jiwa yang kita miliki dapat ditukar Allah dengan kemuliaan surga yang abadi. Oleh karena itu kesempatan meraih surga bagi orang kaya lebih terbuka daripada orang yang tidak kaya. Wallahu a’lam

Comments
Add New Search
wow power leveling  - zfdfsd5     |123.145.187.xxx |2010-05-27 01:45:58
you can get wow gold or wow power leveling and wow power leveling and wow gold
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
kaabanight_small.jpg

arsip

translate this site

We have 6 guests online
Members : 21
Content : 37
Content View Hits : 9077

Shout Box

ShoutMix chat widget

global track

free counters
Valid XHTML & CSS | Template Design wex | Copyright © 2009 by CDMS