|
Ahlan wa sahlan, ya Ramadhan. Selamat datang bulan nan penuh berkah. Segalanya jadi mudah berubah. Puasa jadi biasa. Shalat malam terasa ringan. Tilawah begitu bergairah. Bersedekah tak lagi susah. Pada saat itu, hati begitu mudah hijrah.
Betapa bahagianya orang mukmin. Tiap satu tahun, ada satu bulan yang Allah khususkan. Dan kekhususan itu sangat bermanfaat buat mereka yang ingin selamat. Pada bulan itulah keberkahan melimpah. Ampunan dan kasih sayang Allah pun tercurah. Di antara bentuk keberkahan adalah terjadinya perubahan di masyarakat. Masjid yang biasanya kosong tiba-tiba penuh. Tua, muda, dan anak-anak berbondong-bondong menunaikan tarawih. Tilawah Alquran terdengar hampir di tiap rumah. Mereka yang ingin udara sehat pun bisa bernafas lega. Pasalnya, asap rokok nyaris tak mengepul di hampir semua tempat. Semuanya berubah. Ada satu perubahan yang cukup dahsyat. Pada bulan Ramadhan, hati yang sebelumnya keras terasa melunak. Ia menjadi lembut dan peka. Sinyal-sinyal kebesaran Allah di alam begitu mudah tercerna. Tiba-tiba, sang pengguna hati menemukan cahaya hidayah. Dengan serta merta, ia pun berubah. Di antara mereka adalah seorang artis wanita. Namanya Inneke Koesherawati. Penuturannya di Tabloid Nova bisa diambil pelajaran. "Apa yang saya alami, semua mengalir seperti air. Enggak dibuat-buat," ujar Inneke. Perubahan itu terjadi di bulan Ramadhan. Di suatu Ramadhan, ia mengaku dapat masukan banyak tentang Islam. Entah kenapa, masukan-masukan itu seperti menggiringnya ke sebuah pintu. Dan pintu itulah yang memasukkannya ke ruang lain yang penuh cahaya. Di situlah, ia bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Mana yang lurus dan sesat. Padahal, masukan soal ajaran Islam bukan hal pertama ia terima. Artis yang dulunya jauh dari norma Islam ini merasakan ada yang lain pada Ramadhan. "Sebelumnya, nggak pernah sedikit pun ada keinginan untuk tahu lebih jauh soal agama. Kalau toh mendengar, masuk kuping kanan keluar kuping kiri,” kenangnya. Di bulan Ramadhan itulah ia sadar. 'Ternyata, saya belum melakukan apa-apa dalam ibadah. Salat numpang lewat, nggak khusyuk. Puasa juga begitu. Saya ngejalanin semua itu hanya karena nggak enak sama orang." Dari situlah, Inneke memuhasabah diri. Ia malu sama Allah. “Saya mulai merenungkan, kenapa saya udah dikasih rezeki sebegitu banyak, tapi nggak tahu terima kasih. Saya juga jadi makin bersyukur, Allah ternyata masih sayang sama saya. Buktinya, saya yang jarang salat pun masih aja dikasih rezeki," ujar Inneke yang sejak itu bertekad memperbaiki diri Tentang bertekad memperbaiki diri juga dialami Aisyah. Wanita yang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan katolik ini menemukan kesadarannya. Ia kembali kepada jalan Islam. Dan bersinarnya cahaya kesadaran itu terjadi pada bulan Ramadhan.
Sebenarnya, Aisyah tergolong anak yang kritis. Walaupun sejak kecil ia disekolah yayasan katolik,,daya kritisnya tetap jalan. la heran kenapa tuhan bisa ada tiga. Tapi, semua itu ia pendam hingga ia lulus SMP. Saat di SMU, Aisyah mulai sekolah di sekolah negeri. Tidak seperti sebelumnya di sekolah katolik. Dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, Aisyah sering menyaksikan bagaimana teman-temannya menjalankan syariat Islam. Ada yang shalat, puasa, dan berjilbab. Tanpa sengaja, Aisyah mengamati teman-temannya berbicara dan bertingkah dengan cara Islam. Sedikit banyak, semua itu menggoyahkan keyakinan Aisyah. Namun, Aisyah tetap tidak berubah. Ia masih seperti dulu, berpegang pada ajaran katolik. Aisyah tetap pada pendirian bahwa Islam itu kasar, keras, dan arogan. Hingga suatu hari, hatinya mulai goyah ketika Ramadhan berlangsung. Saat itu, Aisyah terpesona dengan sebuah ceramah di televisi. Waktu itu ada acara pengantar berbuka puasa. Sang penceramah membedah Ramadhan dari sisi kemanusiaan dan kasih sayang. Aisyah tertarik. Ia pun terus menyimak. Tanpa sadar, nilai-nilai Islam mulai merasuk dalam diri Aisyah. Beberapa hari setelah itu, Aisyah bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana. Terus terang, ia mulai tertarik dengan Islam. Ternyata, pemahamannya selama ini tentang Islam adalah salah. justru, Islam sangat menghargai kemanusiaan dan menjunjung tinggi kasih sayang. Ia pun mencoba belajar salat, baca Alquran, dan puasa. Tapi, keraguannya masih belum hilang. Beberapa hari setelah itu, Aisyah menemui pendeta. Ia mencoba mendalami lebih jauh bagaimana katolik menyikapi trinitas. Dari situ, Aisyah makin bingung. Ia heran, bagaimana mungkin ia yang sudah bertahun-tahun beragama katolik justru malah makin bingung soal tiga tuhan. Dari situlah, ia bertekad menjadi muslimah. Walaupun dapat tantangan dari keluarga, Aisyah ingin menjadikan Ramadhan sebagai saat yang tepat melakukan perubahan diri secara total.
Selain Aisyah, perubahan juga dialami Cahyono. Pelawak yang dikenal dalam kelompok Jayakarta Grup ini menemui hidayah Islam yang pernah hilang. Dengan izin Allah swt. pria berbadan subur ini pun menyatakan diri masuk Islam. Sebenarnya, Cahyono lahir dalam lingkungan Islam. Pada usia enam tahun, orangtuanya menyekolahkan Cahyono ke sekolah katolik. Beberapa hari setelah masuk sekolah, Cahyono pun dibaptis. Dan namanya ditambah menjadi Paulus Cahyono. Pada tahun 1971, pria kelahiran dua puluh satu tahun lalu ini melancong ke Jakarta. la berharap, di Jakarta akan ada perubahan nasib. Awalnya, ia bergabung dengan sebuah grup ludruk. Dua tahun setelah itu ia pun akhirnya bergabung dengan Jojon c.s. dalam kelompok Jayakarta Grup. Dalam kesehariannya, Cahyono bergaul akrab dengan teman-teman satu grupnya yang sernuanya beragama Islam. Sedikit demi sedikit, ia mulai mengenal Islam, Tapi, masih sepotong-sepotong. Ia berusaha konsultasi dengan beberapa ustadz. Selain itu, Cahyono membeli aneka buku Islam. Ia benar-benar ingin mengejar ketertinggalannya tentang ajaran Islam. Tapi, kala itu, ia masih belum menjadi muslim, Pada tahun 1992, kerinduannya kepada jati diri sebagai muslim tidak lagi terbendung. Di saat bulan Ramadhan, Cahyono benar-benar terpanggil. Ia begitu simpati melihat umat Islam yang berbondong-bondong beribadah di masjid, buka puasa bersama. Satu sama lain saling memberi nasihat, bersedekah, dan memberi hadiah. Di bulan Ramadhan pada tahun itulah, Cahyono bertekad masuk Islam. Ia pun mengontak seorang kiyai untuk memberikan arahan. Akhirnya, pada tanggal 1 Syawal di tahun yang sama, Cahyono berikrar masuk Islam. Peristiwanya menjelang shalat Ied, dipimpin oleh KH. Rahatib dan disaksikan ribuan hadirin di masjid agung Banyuwangi. Setelah itu, kiprah Cahyono dalam dunia lawak pun seolah tenggelam. Ia lebih menekuni Islam dibawah bimbingan KH.Noer Iskandar SQ di pesantren Assidiqiyah Jakarta. Hari-harinya pun tercurah dalam dunia kajian Islam. Beberapa tahun setelah itu, masyarakat pun dibikin heboh oleh Cahyono. Pasalnya, ia tampil bukan lagi sebagai pelawak. Tapi seorang penceramah yang menyeru umat kembali kepada Allah (Pesantren.Net)
Kembali kepada Allah juga dialami Sari. Mahasiswi di sebuah sekolah akademi di Bogor ini menyesali dirinya yang telah lalai. Selama ini, ia telah menyia-nyiakan waktu mudanya hanya berhura-hura. Dan kesadaran itu telah merubahnya secara total. la tidak lagi Sari yang dulu. Sejak SMU, Sari nyaris tak lepas dari dunia hura-hura. Ia biasa mondar-mandir ke diskotik, aneka pesta, dan lain-lain. Saat di SMU, kegiatan tambahan yang paling ia tekuni adalah grup dance. Sari sebetulnya bingung. Kenapa ia yang orang tuanya haji tapi kelakuannya begitu bebas. Mungkin pengaruh kakak-kakaknya begitu kuat. Lebih kuat dari kedua orang tuanya. Di rumahnya, kakaknya punya organ, gitar, dan aneka musik lain. Akrab dengan dance pun karena tertular dari kakak. Sebenarnya, Sari pernah ikut aktif di rohis SMU. Tapi, itu ia lakukan semata-mata karena ingin menyenangkan hati orang tua. Sekaligus sebagai alibi. Kalau pulang kemalaman, ia bisa bilang, “Ada rapat rohis, Pa!” begitulah jawaban jitu Sari. Kalau sudah begitu, papanya yang sudah di atas enam puluhan ini pun mengangguk-angguk. Walau cuma iseng, Sari paling tidak betah duduk-duduk sama teman rohis yang berjilbab. Ia takut ketularan. Itulah sebabnya, kalau pun ia singgah di rohis, interaksinya cuma pada aktivis pria. Saat kuliah di Bogor, Sari mulai merenung. Semua ucapan dan teguran yang pernah ia dengar dari rekan-rekannya di rohis terbayang-bayang. Suatu hari di bulan Ramadhan, hatinya terpikat dengan beberapa gadis cilik. Sari berpapasan dengan serombongan muslimah cilik berjilbab. Mereka begitu bahagia. Saat itu, Sari seperti terpukul keras. Ia merasa menyesal. Kenapa anak-anak kecil yang belum banyak menikmati dunia ini saja sudah mau berpegang teguh dengan Islam, ia malah tidak. la merasa puasanya tak berarti apa-apa. Cuma sekedar menutup status sebagai muslim. Di suatu malam menjelang akhir Ramadhan, Sari menangis. la menyesali tingkah lakunya selama ini. Saat itu, ia bertekad untuk berjilbab. Dan bertingkah selayaknya seorang muslimah yang salehah. Ingin bertingkah jadi muslim yang baik juga dialami Darul Nurbuat. Pelawak grup Srimulat ini pernah mengalami kegoncangan jiwa yang cukup berat. Semua kegelisahan itu harus ia tebus dengan minum-minuman keras. Bahkan, ia pernah murtad selama delapan tahun. Hingga akhirnya, Allah menunjukinya jalan yang lurus. Nurbuat kembali menjadi muslim. Semua itu karena daya tarik bulan Ramadhan yang luar biasa. Pada tahun 1970, Nurbuat mulai tertarik grup kesenian. Waktu itu, ia masuk grup Anoraga di Malang. Tidak lama setelah itu, pria asli Madura ini pun pindah ke grup ludruk Wijaya Kusuma 11. Uang mengalir lancar. Anehnya, hatinya makin gelisah. Parahnya, kegelisahan Nurbuat bermuara pada minuman keras. Hampir tiap malam ia lakoni barang haram itu. Penghasilannya yang waktu itu cukup lumayan ludes hanya buat hura-hura. Kegelisahan yang tak kunjung padam itu pun menggiring pria yang lingkungannya muslim ini berujung pada kemurtadan. Pada tahun 1978, Nurbuat masuk kristen. Tapi, kegelisahannya justru menjadi-jadi. Pada tahun 1983, keyakinannya pada Kristen mulai goyah. Saat itu, pria lulusan SMEA ini sudah masuk grup Srimulat. Nurbuat mulai menemukan kesadaran. Ia Iebih dewasa. Minum-minuman keras tak lagi jadi pelarian. Bahkan, ia mulai cemburu dengan teman-temannya yang muslim. Ah, nikmatnya menyimak kesyahduan suara adzan, merasa kebersamaan saat shalat berjamaah.
Ada satu hal yang membuatnya tak lagi bisa menahan rindunya pada Islam. Yaitu, suasana bulan Ramadhan. Ia terpesona dengan indahnya puasa. Saat suara bedug Maghrib menggema, Nurbuat menyaksikan teman-temannya yang muslim berbuka. Mereka begitu bahagia. Bersusah payah menahan lapar dan haus bersama, kemudian berbuka pun bersama. Alangkah nikmatnya. Terlebih ketika mereka berangkat ke masjid untuk tarawih bersama. 'Ah, indahnya Islam,' begitulah perasaan hati pria yang sudah yatim sejak usia tiga setengah tahun. Sebelumnya, Nurbuat pernah punya pemikiran yang keliru. Semua agama baik. Tapi, waktu akhirnya menyadarkannya bahwa Islamlah yang paling sempurna. Ia begitu tertarik dengan surah Al-lkhlas. Bahwa, Tuhan itu satu, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. "Logikanya, kalau Dia punya anak, pasti anaknya diistimewakan. Nggak mungkin Dia mendahulukan yang lain," ucap Nurbuat mengenang kesesatannya. Akhirnya, pada suatu malam di tahun 1986, bapak empat anak ini pun kembali pada Islam. Hampir sepanjang malam ia isi dengan shalat malam. Tiap salam, ia tandai dengan pentul korek api. Menjelang Shubuh, ia tutup dengan shalat witir. Paginya, ia menemui seorang kiyai untuk ikrar dua kalimah syahadat. [Majalah SAKSI No. 4 Tahun V 12 Nopember 2002]
|