'Ibrah
Atas nama dakwah, izinkan aku....... PDF Print E-mail
Written by ferry ivo   
Sunday, 13 December 2009 02:23
Jam 16.30, sehabis salat asar, di salah satu ruangan di sebuah masjid.............


kalo menurut anti, apa lagi yang perlu kita persiapkan untuk dauroh besok ?” tanya seorang ikhwan pada seorang akhwat di sela-sela syuro’nya. Ya, syuro’ yang hanya berdua. Memang, harusnya banyak yang akan mengikuti syuro’, namun yang datang hanya dua orang, satu ikhwan dan satu akhwat. Yang lain, sudah hampir satu jam mereka menunggu, tapi tidak ada lagi yang datang, hanya mereka berdua, satu ikhwan dan satu akhwat. Mereka berdua membicarakan masalah koordiansi pada sebuah dauroh yang akan wajihah mereka adakan. Syuro’ disebuah ruangan berhijab, yang didalamnya hanya ada mereka berdua. Ternyata, materi Liqo’ dari murobbi/murobbiah mereka telah terlupakan, tentang batas-batas ikhtilath.


Jam 09.00 di lorong ruangan sebuah kampus...........


Assalamu’alaikum. afwan ukhti, ini undangan buat aksi besok, tolong kasihkan ke ikhwah yang lain.” Pinta seorang ikhwan pada seorang akhwat yang tengah berjalan keluar dari sebuah ruangan kuliah. sang akhwatpun menimpalinya dengan bertanya beberapa hal, tentang rencana aksi/ demonstrasi. Tak sadar, sebuah pembicaraan kecil terjadi antara seorang ikhwan dan seorang akhwat itu, diantara keramaian suasana kampus. Sang ikhwan begitu memperhatikan setiap ucapan dan gerak sang akhwat, sementara sang akhwat pun tak mau ketinggalan. Ia juga begitu seriusnya memperhatikan setiap gerak sang ikhwan. Gerakan matanya, kedua tangannya dan yang lain. Ternyata, ujung-ujung jilbab dan sepatunya tak mampu untuk menarik kedua bola mata sang akhwat, untuk sekedar.......menundukkan pandangan. Ternyata juga, wajah mungil sang akhwat telah menjadi magnet yang sangat kuat pada sang ikhwan, sehingga ia lupa tujuan semulanya

Last Updated on Sunday, 13 December 2009 02:52
Read more...
 
Berbenah Di Bulan Suci PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 30 January 2009 14:24

Ahlan wa sahlan, ya Ramadhan. Selamat datang bulan nan penuh berkah. Segalanya jadi mudah berubah. Puasa jadi biasa. Shalat malam terasa ringan. Tilawah begitu bergairah. Bersedekah tak lagi susah. Pada saat itu, hati begitu mudah hijrah.

Betapa bahagianya orang mukmin. Tiap satu tahun, ada satu bulan yang Allah khususkan. Dan kekhususan itu sangat bermanfaat buat mereka yang ingin selamat. Pada bulan itulah keberkahan melimpah. Ampunan dan kasih sayang Allah pun tercurah.


Di antara bentuk keberkahan adalah terjadinya perubahan di masyarakat. Masjid yang biasanya kosong tiba-tiba penuh. Tua, muda, dan anak-anak berbondong-bondong menunaikan tarawih. Tilawah Alquran terdengar hampir di tiap rumah. Mereka yang ingin udara sehat pun bisa bernafas lega. Pasalnya, asap rokok nyaris tak mengepul di hampir semua tempat. Semuanya berubah.


Ada satu perubahan yang cukup dahsyat. Pada bulan Ramadhan, hati yang sebelumnya keras terasa melunak. Ia menjadi lembut dan peka. Sinyal-sinyal kebesaran Allah di alam begitu mudah tercerna. Tiba-tiba, sang pengguna hati menemukan cahaya hidayah. Dengan serta merta, ia pun berubah. Di antara mereka adalah seorang artis wanita. Namanya Inneke Koesherawati. Penuturannya di Tabloid Nova bisa diambil pelajaran. "Apa yang saya alami, se
mua mengalir seperti air. Enggak dibuat-buat," ujar Inneke.


Perubahan itu terjadi di bulan Ramadhan. Di suatu Ramadhan, ia mengaku dapat masukan banyak tentang Islam. Entah kenapa, masukan-masukan itu seperti menggiringnya ke sebuah pintu. Dan pintu itulah yang memasukkannya ke ruang lain yang penuh cahaya. Di situlah, ia bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Mana yang lurus dan sesat. Padahal, masukan soal ajaran Islam bukan hal pertama ia terima. Artis yang dulunya jauh dari norma Islam ini merasakan ada yang lain pada Ramadhan. "Sebelumnya, nggak pernah sedikit pun ada keinginan untuk tahu lebih jauh soal agama. Kalau toh mendengar, masuk kuping kanan keluar kuping kiri,” kenangnya.


Di bulan Ramadhan itulah ia sadar. 'Ternyata, saya belum melakukan apa-apa dalam ibadah. Salat numpang lewat, nggak khusyuk. Puasa juga begitu. Saya ngejalanin semua itu hanya karena nggak enak sama orang."


Dari situlah, Inneke memuhasabah diri. Ia malu sama Allah. “Saya mulai merenungkan, kenapa saya udah dikasih rezeki sebegitu banyak, tapi nggak tahu terima kasih. Saya juga jadi makin bersyukur, Allah ternyata masih sayang sama saya. Buktinya, saya yang jarang salat pun masih aja dikasih rezeki," ujar Inneke yang sejak itu bertekad memperbaiki diri


Tentang bertekad memperbaiki diri juga dialami Aisyah. Wanita yang sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan katolik ini menemukan kesadarannya. Ia kembali kepada jalan Islam. Dan bersinarnya cahaya kesadaran itu terjadi pada bulan Ramadhan.

Sebenarnya, Aisyah tergolong anak yang kritis. Walaupun sejak kecil ia disekolah yayasan katolik,,daya kritisnya tetap jalan. la heran kenapa tuhan bisa ada tiga. Tapi, semua itu ia pendam hingga ia lulus SMP.

Saat di SMU, Aisyah mulai sekolah di sekolah negeri. Tidak seperti sebelumnya di sekolah katolik. Dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, Aisyah sering menyaksikan bagaimana teman-temannya menjalankan syariat Islam. Ada yang shalat, puasa, dan berjilbab. Tanpa sengaja, Aisyah mengamati teman-temannya berbicara dan bertingkah dengan cara Islam. Sedikit banyak, semua itu menggoyahkan keyakinan Aisyah.


Namun, Aisyah tetap tidak berubah. Ia masih seperti dulu, berpegang pada ajaran katolik. Aisyah tetap pada pendirian bahwa Islam itu kasar, keras, dan arogan. Hingga suatu hari, hatinya mulai goyah ketika Ramadhan berlangsung.


Saat itu, Aisyah terpesona dengan sebuah ceramah di televisi. Waktu itu ada acara pengantar berbuka puasa. Sang penceramah membedah Ramadhan dari sisi kemanusiaan dan kasih sayang. Aisyah tertarik. Ia pun terus menyimak. Tanpa sadar, nilai-nilai Islam mulai merasuk dalam diri Aisyah.


Beberapa hari setelah itu, Aisyah bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana. Terus terang, ia mulai tertarik dengan Islam. Ternyata, pemahamannya selama ini tentang Islam adalah salah. justru, Islam sangat menghargai kemanusiaan dan menjunjung tinggi kasih sayang. Ia pun mencoba belajar salat, baca Alquran, dan puasa. Tapi, keraguannya masih belum hilang.


Beberapa hari setelah itu, Aisyah menemui pendeta. Ia mencoba mendalami lebih jauh bagaimana katolik menyikapi trinitas. Dari situ, Aisyah makin bingung. Ia heran, bagaimana mungkin ia yang sudah bertahun-tahun beragama katolik justru malah makin bingung soal tiga tuhan. Dari situlah, ia bertekad menjadi muslimah. Walaupun dapat tantangan dari keluarga, Aisyah ingin menjadikan Ramadhan sebagai saat yang tepat melakukan perubahan diri secara total.

Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:06
Read more...
 
Hidup dalam satu kalimat utuh PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 30 January 2009 14:20

Ikhwahufiddin, sungguh banyak sekali nikmat yang telah kita nikmati semenjak di lahirkan hingga kita bertatap muka disini. Mulai dari hirupan nafas, degup jantung, hingga sehelai rambut yang bersemayam di kulit kita, semuanya sungguh mempesona.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”(Ar Rahman)

Jawaban kita sangat jelas akhuna, tidak ada ya Rabb, sungguh Maha Suci Engkau dengan segala yang Engkau ciptakan. Hanya jawaban ini saja, kemudian diikuti oleh lidah, hati dan tangan kita yang kemudian memujiNya dalam tiap degup jantung. Mengapa ana menggunakan degup jantung sebagai ukuran? Sebab dalam setiap detik, jantung kita berdegup dua kali, itu artinya satu detik terlalu lama untuk lupa kepada Allah, walaupun jujur ana juga manusia yang tidak luput dari ke alpaan.

Akhi, nikmat yang Allah berikan itu bukan Cuma-Cuma. “Selalu ada sesuatu dibalik sesuatu” atau jangan jangan ada “udang dibalik peyek” itu yang mungkin sering kita sangkakan kepada Allah. Aduh, bukan seperti itu akhi, Allah sangat kaya, Maha Kaya bahkan (Al Ghoniy), lalu Allah juga Maha Perkasa, Maha Kuasa dan serangkaian Maha yang lain. Untuk apa Ia mengharapkan sesuatu kepada makhlukNya. Tidak, Allah tidak membutuhkan kita sama sekali, namun sebaliknya kita teramat tergantung kepadanya, tiap degupnya.

Allah tempat bergantung segala sesuatu”(Al Ikhlas: 2)

Karena saking tergantungnya kita kepada Allah, maka satu detik saja kita dibiarkan terpeleset

Last Updated on Saturday, 31 October 2009 09:18
Read more...
 
Entahlah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 30 January 2009 14:10

Sandal. Kenapa dengan barang yang satu ini? Dan kenapa juga terlalu banyak orang meremehkan penemuan peradaban yang satu ini. Tidak banyak kajian membahas tentang sandal, tidak banyak seminar-seminar nasional yang membahas tentang sandal. Hanya beberapa orang saja yang membahasnya dengan serius. Termasuk aku.

Bukan, bukan karena aku kehilangan sandal. Kalau orang yang kehilangan sandal dan konsentrasi tinggi dlam membahasnya adalah hal yang umum. Bukan pada ranah ini aku hendak membicarakannya. Tapi pada alur sejarah manusia. Alur yang selama ini dianggap sebagai alur yang mengalir penuh dengan harmoni. Meskipun kalau engkau menanyakan kepada orang-orang yang kamu kenal, mereka akan mengatakan bahwa semua ini adalah ketidak teraturan. Bahkan keteraturan bukan ide yang dapat diterima oleh nalar. Bagaimana mungkin kita hidup dalam keteraturan, sedangkan kita tidak mengetahui sama sekali apa yang akan kita alami saat melangkahkan kaki untuk menyebrang jalan. Banyak sekali kejadian orang yang berada di tepian jalan dengan senyumnya dan beberapa detik kemudian sudah meliuk dalam darah mengucur.

Last Updated on Saturday, 31 October 2009 10:33
Read more...
 


kaaba_small2.jpg

arsip

translate this site

We have 2 guests online
Members : 21
Content : 37
Content View Hits : 9069

Shout Box

ShoutMix chat widget

global track

free counters
Valid XHTML & CSS | Template Design wex | Copyright © 2009 by CDMS